Bekicot Cegah Merosotnya Kemampuan Seksual

Bekicot Cegah Merosotnya Kemampuan Seksual

Bagi sebagian besar masyarakat kita, bekicot sering kali dianggap sebagai hama pengganggu yang perlu diberangus buru-buru. Kebiasaan buruknya, menyerang berbagai jenis tanaman, kerap bikin sebal para petani. Kalaulah naik pangkat, harkat hewan ini biasanya tak akan jauh dari sekedar suplemen ternak, itik. Konon, selain dapat membuat piaraan tetap sehat, binatang yang aktif di malam hari ini bisa bikin itik rajin bertelur.

Lain di Indonesia, lain di Eropa, utamanya Prancis. Di sana, hewan yang memiliki nama ilmiah Achatina fulica ini ternyata bisa jadi menu ekslusif, disebut l`escargots de Bourguignonne, yakni bekicot yang dipanggang dengan anggur dan mentega bumbu (herb butter), sejenis makanan pembuka bagi masyarakat kalangan menengah ke atas.

Sebetulnya kita pun layak mempertimbangkan bekicot sebagai bahan makanan andalan. Selain lantaran khasiatnya, dari sisi harga, dibanding sumber protein hewani lain, bekicot tampaknya jauh lebih murah. Supaya bisa “meng-Indonesia” sekaligus tidak bikin geli, daging hewan ini perlu “disulap” sedemikian rupa, menjadi dendeng umpamanya.

Antigizi buruk

Gizi buruk, yang merupakan manifestasi dari kurangnya asupan energi dan protein (KEP), masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang belum tuntas diatasi, meski dari tahun ke tahun dikabarkan prevalensinya terus menurun. Pada anak-anak, selain dapat menghambat pertumbuhan, situasi ini bisa menyebabkan mereka rentan dikenai penyakit infeksi, serta mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan

Selain butuh perombakan perilaku, minimal perlu dua upaya lain yang mesti dijalankan supaya situasi ini tertanggulangi : pertama, penyediaan makanan tinggi energi tinggi protein (TETP); dan kedua, mengingat angka prevalensi yang tinggi untuk kasus ini biasanya di antara masyarakat golongan sosio-ekonomi rendah, maka makanan itu harus pula murah.

Dendeng bekicot memenuhi syarat tersebut. Hasil analisa Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor, mendapatkan, dalam 100 gr dendeng bekicot terkandung energi sebesar 441 kkal. Dibanding energi yang dihasilkan daging ayam, atau bahkan daging sapi muda berlemak (gemuk) yang harganya jauh lebih mahal, nilai tersebut masih jauh di atasnya.

Demikian pula dengan kandungan proteinnya (48,7 gr). Padahal, hasil analisa Oey Kam Nio dari FKUI, protein daging ayam cuma 18,2 gr, dan daging sapi muda berlemak (gemuk) 18,8 gr.

Melihat angka kecukupan gizi harian yang dianjurkan untuk Balita (6 – 59 bulan) yang berkisar antara 800 – 1.750 kkal (untuk energi) dan 15 – 32 gr (untuk protein), berarti, dengan menyajikan 200 – 400 gr dendeng bekicot tiap hari, sebetulnya Balita Indonesia bisa terbebas dari masalah gizi buruk.

Unsur gizi lain yang juga boleh dibanggakan darinya adalah zat besi (16,6 mg/100 gr bahan). Kekurangan zat besi, dikenal dengan istilah anemia gizi besi (AGB), disamping, secara umum, bisa menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh hingga rentan dikenai serangan infeksi. Pada ibu hamil juga dapat mengancam keselamatan jiwanya serta meningkatkan risiko kematian pada bayi yang dilahirkan. Sedangkan bagi kalangan pekerja dan anak sekolah, kondisi ini akan mempengaruhi performanya, hingga menurunkan tingkat produktivitas dan prestasi belajar.

Supaya tidak terkena AGB, seorang pria dewasa harus mengonsumsi 13 mg zat besi setiap hari, sedangkan perempuan 26 mg, atau kurang dari 200 gr dendeng bekicot.

“Bonus” lain yang bisa didapat darinya adalah kalsium (692 mg/100 gr bahan), yang berperan sangat besar dalam jaringan keras tubuh. Selain bisa menghambat pertumbuhan anak, kekurangannya dapat mengakibatkan orang gampang terkena osteoporosis, suatu keadaan yang bisa terjadi pada laki-laki dan wanita, tetapi wanita menopause menghadapi risiko lebih tinggi.

Agar terhindar dari situasi ini, orang dewasa perlu mendapat asupan 500 – 600 mg kalsium per hari atau kurang dari 100 gr dendeng bekicot. Sedangkan untuk ibu hamil dan menyusui, butuh lagi tambahan 400 mg dari nilai tersebut, atau sekitar 70 gr dendeng bekicot.

Yang tak kalah dahsyat, rupanya dendeng bekicot pun memiliki fosfor (523 mg/100 gr bahan). Selain mampu membantu meningkatkan stamina yang loyo, berkat kemampuannya mengaktifkan berbagai enzim dan vitamin dalam pengalihan energi pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, mineral ini juga bisa mendongkrak produksi hormon seks laki-laki, testoteron. Cairan reproduksi laki-laki sebagian besar berisi lesitin. Kemampuan seksual bisa merosot jika jumlah lesitin melorot. Lesitin merupakan hasil “gotong-royong” antara fosfor, nitrogen, asam lemak, dan gliserol.

Jangan sembarangan

Hasil kajian lebih lanjut membuktikan, bekicot ternyata bisa memiliki khasiat obat. Ishimoto negligin, misalnya, yang merupakan hasil ekstraksi bagian dagingnya. Bahan ini disebut-sebut dapat menyembuhkan asma, sakit ginjal, TBC, anemia, diabetes, sembelit dan mencegah influenza.

Demikian pula dengan maulie, sejenis obat yang dikenal berasal dari bagian kulit atau cangkangnya, yang konon mampu menawarkan berbagai penyakit, seperti kejang-kejang, jantung berdebar, insomnia, serta beragam gangguan yang biasa mendatangi kaum wanita, diantaranya keputihan.

Adapun dalam bagian lendirnya, “terintip” oleh Mari Strathers, seorang mahasiswa dari Institut Ilmu Pengetahuan Nuffield, Inggris, adanya semacam zat kristal, yang Menurut David Nunn, Konsultan Bedah Ortopedi di Rumah Sakit London`s Guy, dapat dikembangkan menjadi “zat perekat” baru yang bisa dijadikan salah satu alternatif untuk mengobati patah tulang.

Selain itu, hasil percobaan para peneliti dari Laboratorium Patologi Veteriner, Bagian Parasitologi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB, yang dipimpin drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, Ph.D, mendapati pula, bagian ini dapat diandalkan untuk mengobati luka.

Hasil percobaan mereka pada dua kelompok mencit yang dilukai punggungnya, kemudian mengolesi lendir bekicot pada satu kelompok dan tidak memberi perlakuan apa-apa pada kelompok lainnya, membuktikan, luka pada punggung mencit yang diolesi lendir bekicot menutup dua kali lebih cepat dibanding luka pada mencit yang tidak diolesinya.

Namun demikian, meski deretan kehebatannya satu demi satu berhasil dikuak para pakar, ini tidak berarti orang lantas boleh menyantapnya sembarangan, utamanya dalam keadaan mentah. Adanya telur-telur cacing dan Salmonella yang kerap menumpang hidup padanya, acap kali menimbulkan masalah.

Telur cacing yang masih memiliki kemungkinan untuk berkembang, manakala masuk tubuh, akan menetas menjadi cacing muda, yang dapat jadi pemicu timbulnya penyakit infeksi. Sedangkan Salmonella dapat menyebabkan keracunan, dengan gejala yang ditimbulkan di antaranya mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, demam dan diare, yang dapat timbul 12 – 24 jam setelah mengonsumsinya.

Agar situasi ini dapat dihindari, konsumsilah bekicot setelah binatang tersebut diolah dengan cara yang benar.***

Ditulis dalam Uncategorized. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: